Keliru

by - Maret 12, 2016

Semarang, 24 Februari 2016


Berjalan; sudah menjadi kebiasaanku selama aku resmi menjadi siswi menengah atas di kota Semarang.

Hari ini, tidak seperti biasanya, aku pulang terlambat hingga hampir gelap, karena ada pelaksanaan sidang yang harus segera kami—aku dan teman-teman kelasku—selesaikan.

Aku berjalan dengan lemah; dengan sisa energi yang ku punya. Tetapi, tiba-tiba saja aku merasa sisa energi ku itu berkurang secara drastis, ketika aku dan kau berpapasan di jalan menuju gerbang sekolah, dan yang membuatku merasa semakin lemah adalah ketika kau melewatiku begitu saja dengan motor-mu itu tanpa perlu repot-repot kau menoleh kearahku atau bahkan melihat kearahku sedetik saja, tak kau lakukan. Padahal, yang aku tau, saat itu lingkungan sekolah sedang sepi, karena hari hampir senja, aku rasa sangat tidak mungkin jika kau tak melihatku saat itu.

Aku tersenyum miris, berdecak kagum melihat dirimu yang sekarang, yang berada di atas awan, yang tak sudi lagi melihat diriku ini. Hebat! Kau melakukannya dengan sangat rapi; menutup-nutupi semua yang pernah terjadi di antara kita, kau bahkan berpura-pura tak mengenalku. Mungkin seharusnya kau memenangkan penghargaan piala bergengsi sebagai aktor dengan peran terbaik. Seharusnya.

Jalan yang ku tapaki tak pernah terasa seberat ini. Aku memaksakan kedua kaki-ku untuk tetap terus melangkah, hingga suara motor yang ku kenali terdengar semakin mendekat kearahku.

“Yas,” sebuah suara bass khas lelaki itu terdengar menyapaku, aku otomatis menoleh dan berakhir dengan membeku melihat siapa yang ada di hadapanku ini; lelaki yang baru saja ku lihat melewatiku di dekat gerbang sekolah.

“Kamu baru mau pulang? Aku antar ya,” tawarnya.

Aku menggeleng cepat, “Nggak usah, udah deket kok.”

“Nggak apa-apa, memangnya kamu nggak capek apa habis seharian sekolah masih harus jalan kaki kerumah?”

“Nggak, aku bisa pulang sendiri,” aku menolak, meneruskan langkahku, tetapi ia justru menghalangi jalanku dengan motornya yang ia hentikan tepat di depan kaki-ku.

“Udahlah biar aku antar, ayo naik,” ia menepuk jok belakang motornya, memberi isyarat agar aku naik pada motornya.

Aku mengalah, aku memilih ikut dengannya.

        Saat hendak berjalan menaiki bangku belakang motornya, tiba-tiba saja pergelangan kaki kanan ku terasa nyeri, “awww,” rintihku pelan. Aku menengok kebawah, ah, ya ampun aku baru saja menginjak baru besar dan tergelincir. Hampir saja kaki kanan-ku keseleo untuk yang kedua kalinya; karena sebelumnya aku pernah keseleo ketika masih SD.

            Beruntung aku tak jatuh setelah menginjak batu berukuran cukup besar itu, aku menoleh ke sekeliling, tak ada siapapun, tak ada lelaki itu, yang ada hanya sedikit motor dan mobil yang berlalu lalang di gang kecil menuju rumahku itu. Lelaki itu tidak ada, aku tidak sedang berada diatas motornya, ia tidak sedang mengantarku pulang kerumah, aku masih berada dijalan itu berdiri tegak dengan kedua kaki-ku. Sepertinya aku terlalu lelah, ditambah lagi pertemuan tak disengaja saat berpapasan dengan lelaki itu sebelumnya membuat energi-ku benar-benar tak bersisa. Aku rasa itu hanya ilusi-ku saja.

           Aku meneruskan langkahku, berjalan sambil sesekali menoleh ke belakang, entah mengapa aku masih tak percaya bahwa ini hanya ilusi, hanya khayalan-ku saja.

You May Also Like

0 komentar